Malam Tahun Baru

Setiap akhir desember, orang ramai-ramai mempersiapan acara untuk malam harinya. Mereka akan merayakan malam tahun baru, entah dengan keluarganya atau teman-temannya. Sudah menjadi kebiasaan bagi mereka yang merayakannya, ada yang berpergian menuju lapangan untuk menikmati pesta, atau hanya berbelanja untuk kebutuhan tahun depan.

Mungkin siang hari terlihat sepi, sedangkan sore dan malam, jalanan mulai dipadati dengan orang-orang. Yang jarang terlihat pun ada di sana, menampakkan dirinya.

Setelah menunggu cukup lama, terdengarlah suara hitung mundur dari orang-orang. Seraya tahun telah berganting suara terompet diiringi dengan suara gaduh dari petasan yang meledak dilangit, api dan asap menghiasi langit yang ditutupi awan tipis. Dan gerimis pun dating untuk meredakan itu semua. Sebagian orang mencari tempat teduh dan yang lainnya tak peduli akan itu.

Itu semua mengingatkan akan waktu yang lalu dimana terjadi sebuah peperangan, tepat pada hari yang sama. Bagi orang yang tertidur, maka mereka terbangun dan yang tidak, mereka mendapati diri mereka sudah tidak di dunia lagi.

Ledakan demi ledakan terdengar silih berganti seperti halnya air hujan yang jatuh ke bumi. Semua orang ketakutan pada hari itu, keluar dari rumah malah terbunuh oleh peluru yang berlalu lalang jika berlindung dalam rumah akan tertimpa rudal yang jatuh dari langit. Sesekali terdengar teriakan dari orang-orang, dalam beberapa menit teriakan itu menghilang.

Mayat, potongan tubuh, darah berceceran, kehancuran di muka bumi, itulah pemandangan yang bisa dilihat sepanjang mata memandang. Asap begitu tebal cukup untuk menghalangi pandangan, tanah yang bergetar dan berjatuhan, air hujan yang bercampur dengan keringat, darah dan air mata. Semua itu kengerian yang tak dapat dilupakan bagi yang selamat darinya, tidak ada yang tidak terluka dalam sebuah peperangan.

Sejak saat itu aku selalu mengasingkan diri tepat di hari yang sama pula, jauh di sini, jauh dari mereka, berusaha untuk melupakannya dengan menuliskan surat ini kepadamu yang masih hidup. Agar selalu bersyukur karena Tuhan masih memberimu kesempatan untuk melihat hari esok. Tidak seperti aku yang malah melarikan diri yang berharap selamat dari maut, tapi entah kenapa Dia menghendakinya, dan memberiku pula kesempatan itu. Tetapi aku sadar akan itu, agar aku selalu ingat akan Dia, karena Dia selalu ada dan melihat semua apa yang kita lakukan.

Iklan

Tinggalkan komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s