Kisah Seekor Semut Hitam

Dulu bumi ini masih hijau, asri dan indah. Fast forward setelah beberapa tahun setelah kehadiran manusia, tempat tinggal kita sudah mulai rusak karena peperangan perebutan wilayah, atau eksploitasi alam. Semuanya menghilang sedikit demi sedikit mereka ambil tempat kita dan kita tidak bisa melawan.

Setelah itu beberapa manusia menyerukan “hijaukan bumi kita!” “jangan tebang pohon sembarangan!” “go green” “selamatkan bumi kita” “ayo menanam pohon untuk masa depan”. Ah apa-apaan itu! Apa yang mereka lakukan setelah tempat tinggal kita dirusak, mereka mencoba membangunnya kembali, mau mereka itu apa? Mengapa mereka peduli dengan kita, kita saja tidak peduli? Kita beri semua yang mereka minta, kita rela mati demi mereka, kita layani mereka dan kita tidak mengeluh.

Sungguh aneh bukan? Kami pun meneruskan perjalanan mencari tempat tinggal yang baru yang layak untuk dihuni. Tetapi tiap kami menemukannya mereka merusaknya lagi terpaksa kami mencari penggantinya, dan ini terus berulang-ulang lagi dan lagi.

Para penduduk hutan membuat tempat tinggal sendiri yang meluas dan indah yang mereka sebut dengan hutan. Manusia juga membuat tempat tinggal mereka sendiri sama seperti kita tapi kita tidak bisa balas dendam dengan mereka mengingat keterbatasan yang kita miliki.

Lihatlah sekeliling kalian hutan mereka berwarna-warni, bangungan yang tinggi dan megah, bukankah itu menarik? Tetapi kita tidak bisa tinggal dan hidup bersama mereka, karena mereka akan mengusir kita dengan segala cara, mereka tidak suka akan kehadiran kita di sana. Padahal kita hanya perlu tempat tinggal dan berkembang biak dan hidup bahagia.

Saat menyeberangi sungai sempat bertemu dengan seekor ikan yang aneh rupanya ternyata saudara kita yang hidup di air tidak begitu berungtung terutama di sungai-sungai kecil. Lebih parahnya mereka sudah bermutasi sehingga mereka kurang bermanfaat bagi lingkungan atau manusia. Dia berkata bahwa ada orang yang jahat membuang cairan beracun ke sungai dan seketika semua ikan di sana pergi meninggalkan sungai, beberapa ada yang selamat, tapi kebanyakan mereka tak selamat, dan mereka yang masih tinggal kebanyakan adalah yang sudah bermutasi seperti dirinya. Dengan kemampuan mutasianya dia juga pernah mengunjungi sungai-sungai, dia sangat kaget karena sungai sudah tak lagi bening dan bersih, keadaannya sangat mengerikan, kadar oksigen sangatlah tipis, banyak sampah, dan air berwarna-warni dan rasanya tidak enak. Sampai dia tiba ditempat ini yang sedikit layak untuk dihuni.

Apa yang sebenarnya mereka lakukan? Apa yang mereka inginkan? berbagi tempat saja tidak bisa, bagaimana mereka bisa berbagi kehidupan. Kadang kami mendapat perhatian dari orang-orang yang peduli akan kehidupan kami tetapi hanya sedikit dan itu tak berarti apa-apa buat kami karena tak bertahan lama.

Hanya ada satu cara membalas mereka yaitu ketika kita dan semuanya menghilang entah habis dipakai atau apa mereka akan sadar dan mengetahui bahwa mereka kehilangan kita yang sangat bermanfaat dan berarti bagi kehidupan mereka.

Iklan

Tinggalkan komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s